Berita » Press Release

Rabu, 9 Januari 2019

KASUS YANG DITANGANI KEJATI ACEH, DUGAAAN KORUPSI PDKS PECAH REKOR TERBESAR KERUGIAN NEGARA

Kerugian keuangan negara akibat korupsi sangat tinggi. Pada 2018, total kerugian uang negara dari kasus-kasus rasuah yang terjadi di Aceh mencapai Rp 398,7 miliar. Jumlah itu merupakan akumulasi dari kasus-kasus yang saat ini ditangani aparat penegak hukum, baik kepolisian, kejaksaan maupun KPK.

Dari jumlah itu, kasus korupsi Perusahaan Daerah Kabupaten Simeulue (PDKS) memecahkan rekor sebagai kasus terbesar yang ditangani kejaksaan dengan potensi kerugian negara mencapai Rp 51 miliar dati total kerugian seluruh kasus yakni Rp 74 miliar.

Baca: 2018, Negara Merugi Rp 398,7 Miliar Karena Korupsi di Aceh

Sedangkan kasus dengan kerugian terbesar yang ditangani kepolisian adalah kasus korupsi pengadaan ternak di Lhokseumawe dengan nilai kerugian Rp 8,1 miliar

Hal ini disampaikan Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) Alfian Dalam konferensi pers Kilas Balik Penegakkan Hukum Kasus Korupsi 2018, Selasa (8/1/2019).

Seperti diketahui, PDKS adalah perusahaan daerah yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Perusahaan ini pertama didirikan tahun 2002 dan dihentikan operasionalnya pada 2012 karena tidak berdampak positif bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Simeulue meski telah menghabiskan anggaran Rp 227 miliar sejak 2002.

Baca: Sudah Akhir 2018, Ini Alasan Kejati Aceh Belum Juga Tuntut Darmili

Dari sana publik mencium adanya aroma korupsi hingga akhirnya kasus itu berlabuh juga ke Kejati Aceh. Penyidik telah menetapkan mantan Bupati Simeulue Darmili sebagai tersangka.

Disamping itu, penyidik juga telah menetapkan tersangka lainnya dalam kasus itu mereka adalah mantan Dirut PDKS, AU, dan Dirut PT Pandatu Daru berinisial A. Namun proses hukumnya berjalan tak seperti kasus-kasus pada umumnya.