Berita » Press Release

Kamis, 8 November 2018

Polisi Panggil Belasan Warga Terkait Insiden Mapolsek Bendahara, 9 Orang Ditetapkan Tersangka

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM – Proses hukum terkait insiden pengrusakan dan pembakaran Polsek Bendahara Polres Aceh Tamiang yang terjadi pada Selasa (23/10/2018) lalu hingga kini masih berjalan.

Polisi hingga kini masih memeriksa sejumlah personel Polsek, termasuk mantan Kapolsek Bendahara yang diduga berkaitan dengan penangkapan seorang pengedar narkoba yang meninggal dunia yakni MY dan akhirnya berbuntut pada insiden itu.

Tak hanya itu, polisi juga masih melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap warga yang diduga memang secara langsung melakukan pengrusakan dan pembakaran Mapolsek Bendahara.

Kapolda Aceh, Irjen Pol Rio S Djambak melalui Kabid Humas, AKBP Ery Apriyono mengatakan, tim gabungan Polda Aceh dan Polres Aceh Tamiang selama ini telah bekerja untuk mengusut kasus tersebut.

Personel Polsek Bendahara yang kemarin diperiksa, hingga kini masih menjalani proses penegakan hukum yang dilakukan oleh Dit Reskrimum Polda dan Bid Propam Polda Aceh.

“Saat ini masih proses, proses hukum pidana dan kode etik di Polda Aceh. Namun untuk hasil pastinya masih belum dilaporkan, kita masih menunggu laporan dari tim yang memeriksa,” ujarnya Rabu (7/11/2018) sore.

Ia menjelaskan, tim juga telah mengidentifikasi sejumlah orang yang diduga sebagai pelaku pengrusakan dan pembakaran Mapolsek Bendahara. Ini diketahui dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan tim gabungan di lokasi, termasuk terhadap video insiden yang beredar.

“Tim memanggil 15 warga yang teridentifikasi terkait insiden itu sebagai saksi untuk diminta keterangan. Belasan orang ini merupakan warga Kecamatan Banda Mulia dan kecamatan Bendahara dipanggil Sabtu (3/11/2018) hingga Senin (6/11/2018) kemarin,” ungkap Kabid Humas.

Dari 15 orang yang dipanggil, sambungnya, hanya 14 orang yang hadir di Mapolres Aceh Tamiang untuk menjalani pemeriksaan. Mereka datang secara kooperatif dengan didampingi oleh perangkat gampong masing-masing.

“Satu orang lainnya berhalangan hadir karena yang bersangkutan bekerja di Batam dan saat kejadian ia sedang ambil cuti kerja. Dari hasil pemeriksaan dan identifikasi pun yang bersangkutan diketahui hanya sekedar menonton kejadian itu,” kata Ery.

Dari belasan orang yang dipanggil tersebut, polisi menetapkan 9 orang warga sebagai tersangka yakni JI (38), AN (38), SL (46), SL (46), ZI (32), IN (36), MD (26), IN (35) dan RI (30) yang merupakan warga Kecamatan Banda Mulia dan Bendahara, Aceh Tamiang.

“Kesembilan orang ini memenuhi unsur saat pemeriksaan dan ditetapkan sebagai tersangka pengrusakan dan pembakaran Mapolsek Bendahara sesuai Pasal 170 dan 187 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, lanjut Kabid Humas, para tersangka mengaku bahwa aksi pengrusakan dan pembakaran yang dilakukan spontan karena terpancing emosi saat unjuk rasa yang sebelumnya dilakukan di Mapolsek Bendahara.

“Kita berterima kasih kepada masyarakat, khususnya masyarakat Aceh Tamiang yang turut membantu proses pengusutan kasus ini,” tambah AKBP Ery Apriyono.

Hal senada juga dikatakan Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Zulhir Destrian. Dirinya selaku kepala kepolisian kabupaten setempat berterima kasih kepada seluruh masyarakat Aceh Tamiang yang membantu proses penyelidikan.

“Khususnya kepada 14 warga yang kita panggil untuk dimintai keterangan selama ini yang secara kooperatif hadir memenuhi panggilan dan proses hukum, juga masyarakat yang ikut serta membantu membersihkan puing-puing Mapolsek Bendahara yang rusak,” kata Kapolres.